Tuesday, March 17, 2009
I See
I do believe you see HIM too.
But I’m not sure we’re seeing HIM in the same perspective.
How to really help?
Biasanya akan datang seorang artis / penduduk kota besar – Jakarta – (kita sebut saja dia si “A”) dengan latar belakang keadaan ekonomi menengah keatas ke sebuah rumah yang menjadi sasaran untuk dibedah. Biasanya rumah ini berlokasi di daerah pingggiran / perkampungan dengan keadaan rumah yang sudah sangat parah. Dan yaaah, bisa dikatakan sebetulnya sudah tidak layak untuk ditempati. Si A biasanya berperan sebagai mahasiswa yang harus mengerjakan tugas dari salah satu mata kuliahnya. Seperti sedang mengadakan semacam survey atau penilitian. Lalu dia akan bertanya sedikit tentang kehidupan si empunya rumah, pekerjaan, penghasilan, usia si empunya rumah, dan jumlah anggota keluarga. Biasanya pertanyaan seperti itu dilakukan dengan sangat dramatis sambil sang cameraman menyorot keadaan rumah yang biaanya sudah –yaaaah- reot tersebut. Setelah itu si A baru akan mengatakan bahwa sebetulnya dia datang dengan tujuan memperbaiki rumah tersebut, dan membawa keluarga tersebut ke –biasanya- sebuah hotel dan keluarga tersebut akan menginap disana sampai proses pembedahan rumah tersebur selesai. Mereka diberikan fasilitas yang baik. Bisa merasakan enaknya tinggal di sebuah kamar hotel yang bagus, makan di restoran kelas menengah ke atas, dan merasakan fasilitas hotel yang tidak perlu dipertanyakan lagi kwalitasnya. Lalu setelah proses pembedahan selesai, mereka kembali ke rumah asli mereka yang sudah berubah menjadi tempat yang layak ditempati. Bahkan sebagai bonus mereka diberikan barang-barang elektronik seperti TV, kulkas, dll. Lalu?
Setelah menonton acara tersebut saya bilang sama teman yang duduk disebelah saya, “menurut gw agak kurang penting deh kalo mereka dikasih nginep di hotel segala.” Lalu kata teman saya “menurut gw penting ah”. Ooh, ini bakalan menarik. Trus saya jawab lagi, “pentingnya dimana?”, lalu teman saja menjawab lagi “yaa menurut gw penting aja buat dari psikologisnya.” Lalu saya bilang “trus??” and she answered “ya gitu aja, dari sisi psikologisnya bagus karena at least dia pernah ngerasain pengalaman itu”. And I heard my heart say, yeah you right, and hell yeah ini bisa jadi pembahasan sore-sore yang seru. Trus saya memulai cerita dengan bilang, hmmm…. Iya, waktu itu gw juga pernah nonton Kick Andy, dan dia lagi membahas soal………….
Trus entah kenapa tiba-tiba ruangan jadi super ribut. Semua orang ngomong, saya bahkan Cuma bisa tangkep sedikit dari yang mereka omongin. Suddenly I feel lost. Oleh karena itulah saya menggunakan bantuan aplikasi dari system facebook untuk membahas apa yang sebetulnya ingin saya bahas di sore itu.
Saya sangat setuju bahwa pengalaman seperti makan di restoran mahal,dll penting untuk perkembangan psikologis mereka. (mereka yang saya maksud disini adalah mereka yang rumahnya dijadikan objek dari acara bedah rumah contohnya.). Dan berdoa saja pengalaman tersebut tidak memancing kecemburuan sosial mereka ke tingkat yang lebih tingi yang akhirnya membuat mereka mau melakukan apa saja, sampai ke tindak criminal contohnya, hanya untuk merasakan hal-hal tersebut diatas kembali. Semoga pengalaman itu mendorong mereka untuk berusaha lebih keras sehingga akhirnya suatu saat nanti mereka mendapatkan hidup yang lebih baik.
Tapi kalau ditanya secara personal, saya kurang setuju dengan privilege yang pihak televisi berikan diatas. Kadang saya merasa televisi hanya mengeksploitasi mereka guna menaikkan rating acara mereka. Jujur saja saya tidak terkesan.
Saya tahu, pasti saja ada yang akan berkomentar “yaaaaah, daripada gak sama sekali”
Haha, saya sadar sekali, saya belum melakukan apa-apa untuk menolong sodara-sodara yang kurang beruntung. tapi saya mungkin punya usul yang bisa sama-sama kita pertimbangakan bersama. Kenapa ga, mereka memperbaiki rumah secara sederhana (sesuai dengan tujuan awal, agar mereka memiliki rumah yang layak untuk ditempati), lalu uang yang sisa itu digunakan untuk membiayai pengajaran kepada mereka. Contohnya, si ibu sebenarnya bisa menjahit sedikit-sedikit. Lalu sang ibu di kurususkan menjahit, dengan harapan agar di kemudian hari si ibu diberi sejumlah uang agar bisa memulai usaha jahitnya sendiri. Lalu misalnya si anak dikursuskan bahasa asing agar nantinya si anak punya modal untuk bersaing di masyarakat (oke, saya ngaku, agak berlebihan siiih.. hahah).
Intinya yah mereka diberi modal ilmu bukan uang. Karena seperti yang saya pernah lihat di tayangan Kick Andy, mereka yang diperbaiki rumahnya dan diberi sejumlah besar uang, setelah ditinjau kembali keadaanya setelah beberapa bulan. Ternyata kembali ke kehidupan mereka yang semula. Mereka tidak punya biaya untuk memanage rumah yang bagus itu, benda-benda elektronik yang diberikan kepada mereka tidak digunakan dan beberapa akhirnya dijual, karena toh sebenernya mereka gak punya daya listrik yang cukup. Lalu bagaimana dengan uang mereka? Kebanyakan dari mereka bercerita, setelah mereka muncul di televisi, banyak saudara-saudara yang sudah lamaaaaa sekali tidak ada kabarnya menelpon kembali sehubungan dengan keadaan mereka yang sedang membutuhkan uang. Dan akhirnya uang mereka habis. Begitu saja.
Saya sangat setuju sekali dengan perkataan tokoh Diva dalam buku Supernova “Ksatria, Puteri, Dan Bintang Jatuh” karya Dee yang pernah berkata seperti ini:
“Kalau saya Cuma menggaji bapak tok, sama saja kayak bapak pelihara kambing. Biarpun dikasih makan rumput segentong, kambing tetap nggak bisa nolongin istri bapak masak, atau bantu anak-anak bikin peer. Kalau besok lusa saya jatuh miskin dan gak bisa gaji Bapak lagi, nanti Bapak terpaksa menganggur. Cari-cari orang lain yang bisa menggaji. Saya ingin Bapak bisa maju, sekalipun gak ada saya. Atau majikan manapun.”
Si bapak menjadi sangat terharu mengingat kebaikan Diva yaitu, menanggung biaya sekolah ketiga anak si Bapak, membayari mereka mengikuti berbagai macam kursus, memberi mereka buku bacaan yang banyak, dan memasukkan si Ibu kedalam kursus menjahit.

Itu adalah perkataan satu tokoh dalam sebuah novel yang membuat saya tersadar akan sesuatu. Betapa pentingnya bekal ilmu / mungkin bisa juga keterampilan dalam kehidupan seseorang. Menurut saya yang dikatakn oleh tokoh Diva tersebut betul sekali. Dia memberi mereka bekal ilmu, sehingga mungkin suatu saat nanti merekalah yang dapat menaikkan taraf kehidupan mereka sendiri. Menjadi mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain lagi. Bukankah menjadi kebanggaan yang luar biasa bagi kita yang seolah-olah berinvestasi padakehidupan seseorang, lalu dapat melihatnya membuat kehidupannya sendiri dan kemudian mulai berinvestasi pada kehidupan orang lain (anak merupakan contoh paling dekat) dan melihatnya mendapat pencapaian yang terdahulu orangtuanya dapatkan. Yaitu mempunyai kehidupan yang mandiri. Dan kemudian berlanjut kepada anaknya lagi, terus dan terus seperti perumpamaan bola salju yang akan terus berputar sehingga bertambah besar.
Seperti yang tante saya pernah bilang : “Tau gak, menurut saya kuburan itu adalah tempat dengan harta karun paling banyak. Mau tau gak kenapa? Karena disana terkubur bagitu banyak ilmu yang gak mungkin bisa kita curi lagi.”
Ini sekedar pembicaraan iseng aja. I mean kita juga gak pantes banget untuk nge-judge apa yang udah mereka buat, padahal kita belum melakukan apapun. Jadi ya anggep aja ini hanya obrolan untuk menghabiskan sore hari yang kurang menarik. ^_^ hehe…
So tell me what you think, because I really want to know.
Xoxo,
Yolanda.
FEAR.
Akan segala yang tak ingin kulihat dan kuharap tak terjadi.
Akan kasih sayang tak berbalas yang tak sanggup kucerna.
Akan sakit penyakit yang tak dapat kucegah datangnya.
Akan malam yang tampaknya tak kunjung berakhir.
Akan jalinan peristiwa yang buatku berfikir.
Kapankah semua ini bermula?
Akan orang-orang yang tidak peduli.
Tidak peduli selain kepada dirinya sendiri.
Tapi terlebih lagi, aku takut akan bara yang kupendam.
Yang tak kukira selama ini kumiliki.
Yang tiba-tiba menyeruak ingin menonjolkan diri ke permukaan.
Permukaan yang selama ini tenang tanpa riak.
Lalu aku menjadi sedih.
Dan berfikir, mengapa semua manusia harus lahir dengan cadangan amarah?
Si lebah diberikan sengat untuk mempertahankan diri, tapi aku ingin menjadi kupu-kupu.
Dengan hidupnya yang tenang. Damai. Tanpa ada permusuhan.
Akankah kita sampai pada kehidupan yang seperti itu, hai manusia?


